Hari ke- 3
KBMN PGRI Gel_34
Narasumber Aam Nurhasanah,S.Pd
Moderator Eka Yulia, M.Pd
Teman, pernahkah kita bertanya pada diri sendiri, sebenarnya apa sih potensi terbaik yang pernah kita miliki?
Kadang kita merasa biasa-biasa saja, merasa belum punya kemampuan khusus, atau bahkan ragu untuk memulai sesuatu. Namun, pada pertemuan ke-3 Kelas Belajar Menulis Nusantara Gelombang ke-34, saya mendapatkan pelajaran berharga bahwa setiap orang sebenarnya memiliki potensi. Potensi itu hanya perlu ditemukan, dilatih dan dikembangkan.
Pada pertemuan malam ini, narasumber adalah Bunda Aam Nurhasanah, S.Pd. Beliau adalah guru Bahasa Indonesia di SMP Negeri Satu Atap 4 Cipanas, Kabupaten Lebak, Provinsi Banten. Selain menjadi guru, beliau juga dikenal sebagai penulis, guru blogger, moderator, kurator, editor, dan bagian dari Tim Solid Om Jay. Malam itu, beliau didampingi oleh Bunda Eka Yulia, M.Pd., alumni KBMN Gelombang ke-28. Materi yang dibawakan terasa dekat dengan kehidupan kita, yaitu tentang Gali Potensi, Ukir Prestasi.
Dari penjelasan Bunda Aam, saya memahami bahwa potensi itu seperti harta terpendam. Ia ada dalam diri kita, tetapi tidak selalu langsung terlihat. Untuk menemukannya, kita perlu keberanian untuk mencoba, kemauan untuk belajar, dan ketekunan untuk terus berlatih. Bisa jadi potensi itu muncul dari hal sederhana yang kita sukai, misalnya menulis, membaca, berbicara, mengajar, menggambar, atau membagikan pengalaman kepada orang lain.
Menggali potensi berarti kita mulai mengenali diri sendiri.
Kita seharusnya bertanya, apa yang saya sukai?
Apa yang bisa saya lakukan?
Apa yang ingin saya kembangkan?
Pertanyaan-pertanyaan sederhana seperti ini dapat menjadi awal perjalanan kita. Setelah potensi itu ditemukan, tugas berikutnya adalah mengasahnya. Sebab kemampuan tidak akan berkembang jika hanya disimpan dalam pikiran tanpa tindakan nyata.
Bunda Aam juga menjelaskan bahwa mengukir prestasi bukanlah proses yang instan. Kata ukir memberi gambaran bahwa prestasi membutuhkan waktu, kesabaran, dan kerja keras. Sama seperti seseorang yang mengukir kayu atau batu, hasil yang indah tidak muncul dalam sekali sentuhan. Ada proses panjang, ada kesalahan, ada perbaikan, dan ada usaha yang terus dilakukan dengan sungguh-sungguh.
Hal yang sangat menginspirasi dari Bunda Aam adalah kisah perjalanan beliau sendiri. Beliau pernah mengikuti KBMN Gelombang ke-12 hingga akhirnya lulus. Dari proses itulah beliau mulai tertantang untuk menulis bersama Ibu Kanjeng. Perjalanan itu kemudian melahirkan buku antologi pertamanya yang berjudul Semangat Menulis Bersama Bu Kanjeng. Tidak berhenti di situ, karena salah satu syarat kelulusan KBMN adalah memiliki buku solo, maka lahirlah buku solo pertamanya yang berjudul Mengukir Mimpi Menjadi Penulis Hebat.
Setelah lulus, Bunda Aam semakin aktif dalam dunia literasi. Beliau dipercaya menjadi moderator, lalu menulis buku solo kedua berjudul Kunci Sukses Menjadi Moderator Online. Dari sini kita bisa melihat bahwa satu langkah kecil dapat membuka jalan menuju langkah-langkah berikutnya. Ketika seseorang berani memulai, peluang baru akan mulai berdatangan.
Bunda Aam terus menggali potensi dirinya dengan mengikuti berbagai kegiatan. Beliau pernah mengikuti lomba blog, tantangan menulis tanpa jeda selama 28 hari, hingga tantangan menulis bersama Prof. Richardus Eko Indrajit. Semua pengalaman itu tentu tidak selalu mudah. Namun, dari proses yang dijalani dengan tekun, beliau berhasil membuktikan bahwa usaha tidak akan mengkhianati hasil.
Yang lebih menarik lagi, Bunda Aam tidak hanya berhenti pada prestasi pribadi. Beliau juga mengajak siswa-siswanya untuk menulis buku. Bahkan, beliau ikut mendorong kelompok kepala sekolah agar mau menulis. Dari sini, kita dapat melihat bahwa potensi yang dikembangkan dengan baik tidak hanya bermanfaat bagi diri sendiri, tetapi juga dapat menggerakkan orang lain.
Tentu saja, dalam perjalanan menulis, banyak tantangan yang sering kita rasakan. Kadang ide terasa hilang. Kadang semangat menurun. Kadang muncul rasa tidak percaya diri. Bahkan, ada juga rasa takut diejek atau dianggap tidak mampu. Namun, dari kisah Bunda Aam, kita belajar bahwa semua itu bukan alasan untuk berhenti. Gagal bukan berarti kalah. Ragu bukan berarti tidak bisa. Justru dari rasa takut itulah kita belajar menjadi lebih berani.
Pada akhirnya, saya menyadari bahwa materi ini bukan hanya berbicara tentang menulis, tetapi juga tentang keberanian mengenal diri sendiri. Setiap langkah kecil yang kita ambil hari ini bisa menjadi awal dari prestasi di masa depan. Kita tidak harus langsung hebat. Kita juga tidak harus langsung sempurna. Yang penting adalah mau memulai, mau belajar, dan mau bangkit setiap kali mengalami kegagalan.
Sebagai refleksi untuk diri ini ke depan, yuk…..! kita mulai menggali potensi diri masing-masing. Jangan terlalu lama menunggu waktu yang sempurna, karena waktu terbaik untuk memulai adalah sekarang. Mulailah dari hal kecil, dari hal yang kita sukai, dan dari kesempatan yang ada di sekitar kita. Seperti Bunda Aam yang terus bergerak dan menginspirasi banyak orang, kita pun bisa mengukir prestasi dengan cara kita sendiri. Mari kita berani mencoba, berani belajar, dan berani menjadi versi terbaik dari diri kita.

Komentar
Posting Komentar