Literasi yang Tumbuh dari Langkah Kecil

KBMN PGRI Gel_34
Narasumber : Bambang Purwanto, S.Kom, GR.CPS,.CPPS,.C.ED,MEP
Literasi yang Tumbuh dari Langkah Kecil
Menatap dan membaca chat aplikasi Whatsapp malam ini terasa seperti diajak masuk ke dalam sebuah cerita yang hangat π. Bukan hanya tentang materi, tetapi juga tentang perjalanan hidup seseorang yang mencintai literasi dengan sepenuh hati.
Narasumber malam ini adalah Mr. Bams, atau Bambang Purwanto, seorang guru yang lahir dari Kota Bandung dan mulai meniti karir sejak tahun 2008. Kini beliau dikenal sebagai guru, penulis, penggerak literasi, dan narasumber di berbagai kegiatan.
Malam itu, suasana semakin terasa akrab karena dipandu oleh Ibu Gina sebagai moderator. Beliau bukan hanya memandu acara, tetapi juga menjadi jembatan yang membuat cerita narasumber terasa dekat dengan peserta.
Sejak awal kegiatan, Ibu Gina membuka ruang diskusi dengan santai dan hangatπ. Candaan kecil tentang masa lalu bersama Pak Bambang membuat suasana tidak terasa kaku. Sebagai peserta, saya merasa tidak sedang mengikuti kelas yang berat, tetapi seperti sedang duduk bersama membaca kisah yang dibagikan dari perjalanan menulis narsum mengalir apa adanya. Semua terasa dekat, ringan, tetapi tetap bermakna, baik dari peserta yang telah menjadi senior diantara kami yang junior dalam hitungan angka.π
Hal yang menarik dari peran Ibu Gina adalah caranya menjaga suasana diskusi. Beliau tidak mendominasi, tetapi juga tidak membiarkan kegiatan berjalan datar. Pertanyaan-pertanyaan yang disampaikan terasa sederhana, namun sebenarnya mengajak kita untuk berpikir lebih dalam. Kita seperti diajak bertanya kepada diri sendiri, sudah sejauh mana literasi hadir dalam kehidupan kita? Apakah literasi hanya ada di sekolah, atau sudah menjadi bagian dari rumah, keluarga, dan lingkungan sekitar?
Candaan Ibu Gina tentang gagal mengulang kelas juga terasa ringan, tetapi menyimpan pesan penting. Dalam proses belajar, kita tidak selalu harus sempurna. Ada saatnya kita jatuh, merasa gagal, tertawa atas kesalahan sendiri, lalu bangkit kembali. Dari situ saya belajar bahwa proses belajar tidak harus selalu serius dan tegang. Kadang, suasana yang santai justru membuat pesan lebih mudah masuk ke hati.
Dari kisah Mr. Bams, saya melihat bahwa perjalanan literasi bukanlah sesuatu yang instan. Beliau memulai perjalanan sebagai guru sejak tahun 2008, kemudian menjadi guru tetap pada tahun 2015. Setelah itu, beliau mengikuti PPG pada tahun 2018, menjadi Guru Penggerak pada tahun 2024, dan hingga tahun 2026 masih terus berkarya sebagai penyusun modul. Perjalanan ini menunjukkan bahwa menjadi pegiat literasi bukan soal siapa yang paling cepat, tetapi siapa yang mampu bertahan dan konsisten dalam waktu yang panjang.
Tema “Pegiat Literasi Masyarakat melalui TBM” benar-benar terlihat dalam pengalaman hidup Mr. Bams. Apa yang beliau sampaikan bukan sekadar teori, tetapi pengalaman nyata yang dijalani sendiri. Literasi dimulai dari hal sederhana, dari rumah kecil, dari rak buku yang mungkin tidak terlalu banyak, dan dari niat baik yang terus dijaga. Dari cerita itu, saya merasa bahwa literasi bukan hanya program, bukan hanya kegiatan membaca dan menulis, tetapi sebuah perjuangan untuk membuka ruang belajar bagi banyak orang.
Kisah tentang TBM AS Lebakwangi menjadi bagian yang sangat membekas. Rumah tanpa pagar, buku seadanya, dan anak-anak yang datang untuk membaca memberi gambaran bahwa literasi bisa tumbuh dari tempat yang sederhana.
Tidak perlu menunggu fasilitas yang lengkap untuk memulai. Selama ada niat, kepedulian, dan kemauan untuk berbagi, gerakan literasi bisa hidup.
Anak-anak yang datang membaca, bahkan sambil menjaga rumah, menunjukkan bahwa buku bisa menjadi teman yang dekat dalam kehidupan sehari-hari.
Saya semakin percaya bahwa langkah kecil bisa membawa dampak besar. Satu rak buku bisa menjadi awal terbukanya wawasan. Satu rumah sederhana bisa menjadi tempat tumbuhnya minat baca. Satu orang yang peduli bisa menggerakkan banyak orang untuk mencintai literasi. Itulah yang saya lihat dari perjalanan Mr. Bams. Beliau tidak hanya berbicara tentang literasi, tetapi benar-benar menghadirkan literasi di tengah masyarakat.
Dari pertemuan KBMN malam ini, saya belajar bahwa literasi tidak harus dimulai dari sesuatu yang besar. Literasi bisa dimulai dari rumah, dari keluarga, dari lingkungan terdekat, bahkan dari satu buku yang kita bagikan kepada orang lain. Mr. Bams memberi contoh bahwa konsistensi, ketulusan, dan keberanian memulai adalah kunci penting dalam membangun gerakan literasi.
Ke depan, semoga kita tidak hanya menjadi pendengar dari kisah inspiratif ini, tetapi juga mulai mengambil langkah kecil seperti yang dilakukan narasumber. Kita bisa mulai dengan membaca lebih rutin, menulis pengalaman sederhana, mengajak anak-anak mengenal buku, atau menyediakan ruang kecil untuk berbagi bacaan. Tidak harus langsung besar, tidak harus langsung sempurna. Yang penting adalah berani memulai dan mau menjaga semangat itu.
yuk.....mari kita nyalakan semangat literasi dari tempat kita masing-masing.
Seperti Mr. Bams yang memulai dari langkah sederhana hingga memberi manfaat bagi banyak orang, kita pun bisa melakukan hal yang sama. Sebab, siapa tahu dari langkah kecil hari ini, akan lahir perubahan besar di masa depan.πͺπͺπͺ
mantap resumenya, semoga kelak menjelma menjadi buku yg bermutu
BalasHapus