Belajar Diksi, Menemukan Rasa dalam Kata
Dari Kata Sederhana
Aku belajar pada malam yang hening,
bahwa kata tidak harus tinggi
untuk sampai ke hati.
Cukup dari suara hujan di jendela,
aroma tanah setelah gerimis,
atau cahaya lampu yang diam
di sudut ruang belajar.
Kata-kata itu ternyata dekat,
hidup di sekitar langkahku,
menunggu disentuh oleh rasa,
lalu tumbuh menjadi puisi.
Aku tidak perlu menjadi sempurna
untuk mulai menulis.
Aku hanya perlu berani mendengar,
melihat, merasakan,
dan menuliskan apa yang bergetar
di dalam dada.
Maka malam ini,
biarlah jemari mulai bergerak,
menyusun kata sederhana,
sebab dari hal kecil yang jujur,
puisi bisa lahir
dan menemukan jalannya sendiri.
Kegiatan KBMN 34 menjadi pengalaman belajar yang sangat berarti bagi saya. Sejak awal pembukaan webinar, suasana sudah terasa hangat ketika narasumber membacakan puisi dengan penuh penghayatan. Dari bait-bait puisi itu, saya merasa diajak masuk ke ruang belajar yang tidak kaku, tetapi lembut dan menyentuh hati.
Saat mengikuti kegiatan ini, sebenarnya saya sedang sibuk menyelesaikan tugas sekolah dan tugas kuliah. Di sela-sela pekerjaan yang menumpuk, saya tetap berusaha hadir. Sambil memandang layar Zoom, saya menyimak materi dan mengikuti jalannya kegiatan dengan kemampuan yang saya punya.
Di tempat ini, saya tidak hanya belajar menyusun kata menjadi tulisan, tetapi juga belajar memahami perjalanan diri sendiri. Meskipun pikiran kadang terbagi antara tugas dan kegiatan, suasana KBMN 34 tetap memberi energi baru bagi saya. Saya merasa berada di lingkungan yang hangat, karena para peserta saling memberi semangat dan saling menguatkan melalui tulisan. Dari sana, saya sadar bahwa belajar menulis bisa dilakukan di tengah kesibukan, asalkan kita masih mau membuka hati untuk terus bertumbuh.
Tema “Diksi dan Seni Bahasa” benar-benar membuat perjalanan malam terasa lebih syahdu. Sejak awal kegiatan, telinga seperti dimanjakan oleh lantunan kata-kata yang dipilih dengan indah. Setiap kalimat terasa mengalir, lembut, dan membawa suasana belajar menjadi lebih hangat. Malam itu, saya tidak hanya mendengar materi, tetapi juga ikut merasakan bahwa kata-kata memiliki kekuatan untuk menyentuh hati.
Narasumber malam itu adalah Mayderly, sosok perempuan yang hangat dan lembut dalam menyampaikan materi. Cara beliau berbicara terasa menenangkan, tidak terburu-buru, dan membuat peserta nyaman untuk menyimak.
Saya merasa lebih dekat mengenal beliau sejak kegiatan Temu Penulis KBMN 2025 di Malang. Dari pertemuan itu, saya melihat bahwa beliau bukan hanya pandai merangkai kata, tetapi juga memiliki ketulusan dalam membagikan ilmu dan pengalaman.
Kegiatan ini juga dipandu oleh Mutmainah, M.Pd. sebagai moderator. Beliau mampu membawa jalannya diskusi menjadi hidup, tertata, dan tetap hangat.
Pertanyaan dari para peserta mengalir dengan menarik, sehingga suasana malam itu terasa seperti ruang berbagi, bukan sekadar penyampaian materi satu arah.
Kami dibuat terlena oleh keindahan diksi yang disampaikan pemateri maupun oleh tanggapan para peserta. Dari kegiatan ini, saya semakin sadar bahwa memilih kata bukan hanya soal memperindah tulisan, tetapi juga tentang bagaimana menghadirkan rasa, suasana, dan makna agar tulisan bisa lebih hidup di hati pembaca.
Pemateri juga menyampaikan bahwa untuk menghadirkan kesan estetik dalam kalimat puisi, seorang penulis membutuhkan jurus jitu dalam mengembangkan diksi. Diksi tidak cukup hanya dipilih karena terdengar indah, tetapi juga harus mampu membangkitkan rasa dan bayangan dalam pikiran pembaca. Di sinilah pentingnya memanfaatkan indra dan imagery atau pengimajian dalam menulis.
Melalui pemanfaatan indra, sebuah puisi dapat terasa lebih hidup. Penulis dapat menghadirkan apa yang dilihat, didengar, diraba, dicium, atau dirasakan. Misalnya, bukan sekadar menulis “malam itu sunyi”, tetapi bisa dikembangkan menjadi “malam menggantung pelan, hanya suara angin yang menyentuh daun-daun di halaman.” Kalimat seperti ini membuat pembaca tidak hanya membaca, tetapi juga seolah ikut masuk ke dalam suasana puisi.
Pemateri menjelaskan bahwa imagery membantu pembaca membayangkan suasana, peristiwa, dan perasaan yang ingin disampaikan penulis. Kata-kata yang tepat dapat menghadirkan gambar dalam pikiran. Puisi menjadi tidak kering, karena ada warna, suara, aroma, gerak, dan rasa di dalamnya. Dari sini saya belajar bahwa puisi bukan hanya permainan kata, tetapi juga seni menghadirkan pengalaman batin melalui bahasa.
Malam itu saya semakin memahami bahwa diksi adalah pintu masuk menuju keindahan puisi. Dengan memilih kata yang tepat dan melibatkan kekuatan indra, tulisan sederhana pun bisa terasa lebih bernyawa. Saya merasa tertantang untuk lebih peka terhadap hal-hal kecil di sekitar, karena bisa jadi dari suara hujan, aroma tanah basah, atau cahaya lampu di sudut jalan, lahir baris-baris puisi yang indah dan menyentuh.
Saat menyimak materi ini, saya merasa seperti diajak pelan-pelan untuk lebih peka terhadap kata-kata. Selama ini saya sering menganggap puisi itu sulit dan hanya bisa ditulis oleh orang yang memang pandai merangkai bahasa. Namun, setelah mendengar penjelasan tentang diksi, indra, dan imagery, saya mulai merasa bahwa puisi sebenarnya bisa lahir dari hal sederhana yang kita lihat, dengar, dan rasakan setiap hari.
Saya merespon materi ini dengan rasa ingin mencoba. Mungkin tulisan saya belum indah, mungkin pilihan kata saya masih biasa saja, tetapi saya ingin belajar lebih berani memainkan kata. Saya ingin mulai memperhatikan suara hujan, warna langit, aroma tanah, atau perasaan kecil yang sering lewat begitu saja. Dari sana, saya berharap bisa menulis puisi dengan lebih jujur, lebih hidup, dan lebih dekat dengan hati pembaca.
saya menyadari bahwa menulis puisi bukan hanya tentang mencari kata-kata yang indah, tetapi juga tentang melatih hati agar lebih peka.
Dari materi ini, saya belajar bahwa setiap pengalaman kecil di sekitar kita bisa menjadi bahan tulisan, asalkan kita mau merasakannya lebih dalam.
Akhirnya kita menyadari bahwa diksi yang baik tidak harus selalu rumit. Kata sederhana pun bisa terasa indah jika ditulis dengan jujur dan penuh rasa. Dari refleksi ini, mari kita mulai menulis dari sekarang, dari hal-hal sederhana, dari rasa yang paling dekat, dan dari cerita kecil yang hidup di sekitar kita.

Komentar
Posting Komentar