Bersama PT ANDI OFFSET Yogyakarta: Dari Materi Ajar Menjadi Buku Ajar

 

Resume ke-10 

Senin, 11 Mei 2026 

Nara Sumber : Agus Subardana, SE., M.M.

Moderator : Sigid PN, S.H.



Malam ini saya kembali mengikuti kegiatan kelas belajar menulis Nusantara PGRI gelombang 34 melalui grup WhatsApp. kegiatan yang dipandu oleh Bapak Siqid Purwo Nugroho selaku Moderator, dan menghadirkan narasumber hebat, yaitu Bapak Agus Subardana, S.E,. M.M., Direktur penerbitan dan Pemaasaran Penerbit ANDI OFFSET Jogya karta.

Kegiatan ini membaha secara mendalam tentang bagaimana penulis, khususnya penulis pemula dapat memahami proses penerbitan buku melalui  penerbit mayor. Materi ini penting karena banyak penulis memiliki gagasan dan naskah yang baik, tetapi belum memahami eskositem penerbitan secara utuh.

sebagai peserta KBMN PGRI gel 34, saya merasa materi malam ini sangat penting, terutama saya sebagaai guru yang memiliki keinginan untuk menerbitkan buku. selama ini ada niat 😎💥💥, (baru niat), dan sudah memiliki bahan ajar, pengalaman mengajar, modul, catatan pebelajaran, dan praktik baik di kelas. namun, belum tau bagaimana bahan-bahan tersebut dapat disusun menjadi naskah buku yang layak diterbitkan oleh penerbit mayor.

Penerbit mayor memiliki  peran strategis dalam membantu penulis menghasilkan  buku yang berkualitas . penerbit tidak hanya mencetak naskah, tetapi melakukan proses editing, penyuntingan, desain cover, setting layout, pengurusan ISBN, legalitas, distribusi, hingga pomosi. melalui proses tersebut, naskah yang semula masih berupa karya mentah dan diolah menjadi buku yang rapi, komunikasi profesional , dan layak diterima pembaca.

Nah, untuk ini baru saya tersecrahkan sedikiti demi sedikit tahapan menerbitkan sebuah buku.

Penerbit ANDI dijelaskan juga sebagai salah  satu penerbit mayor di Indonesia karena memiliki pegalaman panjang, jaringan nasional, reputasi akademik, mesin prodksi sendiri, lebih dari 20.000 judul buku yang telah diterbitkan, lebih dari 40 kantor cabang, serta didukung oleh ratusan tenaga profesional, kekuatan ini membuat buku yang diterbitkan memiliki peluang lebih besar untuk mengjangkau sekolah, perguruan  tinggi, toko buku  besar, market place, perpustakaan dan komunitas pembaca yang lebih luas.

Pemateri  juga menegaskaan bahwa menjadi penulis pada era digital tidak cukup hanya mampu  menulis. Penulis perlu memamahami tantagan industri penerbit, seperti persaingan dengan  indi publishing, banyak konten digital , kertebatasan distribusi, kurangnya pemahaman teknis, penerbitan, serta pentingnya promosi mandiri.
 Penulis  masa kini perlu membangun personal branding, memahami target ,aktif mengenalkan karyanya, dan mampu bekerja sama dengan penerbit secara profesional.

Manfaat bekerjasama dengan penerbit mayor antara lain meningkatkan kredibilitas penulis, memperluas jangakuan karya, memperoleh sistem royalti yang jelas , membuka peluang buku digunakan sebagai referensi akademik, serta mendapat dukungan dari tim profesional. penerbit ANDi memberikan royalti  standar sebesar 10% dengan perhitungan berdasarkan buku yan benar-benar telah terbayar lunas. selain itu, bentuk kerjsamaa penerbitan dapat dilakukan secara individu, kelompok dan penulis, maupun melalui lembaga atau institusi

Dalam proses seleksi naskah, penerbit menilai beberapa aspek penting, yaitu aspek ideologi, keilmuan, penyajian, pemasaran, dan reputasi penulis. Penilaian ini bukan untuk merendahkan karya tulis, melaiankan untuk memastikan naskah dapat terbit secara optimal dan bertanggunagjawab. Penulis juga perlu mengirimkan naskah final, bukan sekedar outline atau draft lengkap dengan kata pengantar, daftar isi, isi naskah, daftar pustaka,rindeks, sinopsis, keterangan pasar sasaran, prospek pasar, manfaat buku, dan profil penulis.

Tahapan penerbitan dimulai dari pengiriman naskah, seleksi dan review redaksi, pemberitahuan hasil, editing, layout, profil, desain cover, pengurusan ISBN, pencetakan distribusi, hingga promosi dan launching buku. Seluruh tahapan ini menunjukkan bahwa penerbitkan buku melalui penerbit  mayor membutuhkan kesiapan naskah, kounikasi yang baik, serta kesedian penulis untuk memgikuti proses penyempurnaan karya.

Pertemuan malam ini memberikan pesan penting bahwa menulis bukan sekedar aktivitas menuangkan kata-kata tetapi proses meninggalkan gagasan, pengalaman ilmu, dan nilai bagi pembaca. setiap penulis memiliki potensi untuk memghasilakn karya, asal berani memulai, konsisten memyelesaikan naskah, dan mau belajar memahami dunia penerbitan. buku yang baik bukan hanya seleesai ditulis, tetapi juga perlu dkemas  diterbitkan, didistribusikan, dan dipromosikan dengan tepat agar memberi dampak nyata bagi masyarakat.

Menurut saya, materi ini sangat bermanfaat bagi penulis pemula karena membuka wawasan bahwa menjadi penulis bukanlah proses yang instan. penulis pemula perlu mulai dari hal yang paling dekat dengan dirinya berupa pengalaman mengajar, hasil penelitian, keahlian profesi, praktik baik, atau refleksi  kehidupan. jangan  menunggu naskah sempurna untuk memulai menulis, tetapi mulailah  menulis agar naskah dapat disempurnakan.


 

 



Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kisah Inspirasi

Menjadikan Menulis sebagai Passion

Sudut Hangat