Ketika IA Hadir dalam Dunia Menulis
Jumat, 2 Mei 2026.
KBMN Pertemuan 6 Batch 34
Nara sumber: Drs.Dedi Dwitagama, M.Si
Moderator : Sim ChungWei, S.P.
Materi : Penggunaan IA dalam Menulis
Pada pertemuan ke enam Kegiatan KBMN PGRI Batch 34 yang dilaksanakan pada hari Jumat, 1 Mei 2026, kami mengikuti dengan antusias. Pertemuan kali ini memberi saya pengalaman belajar yang berbeda.
Tidak seperti pemateri sebelumnya, sebelum memasuki materi inti beliau mengajukan pertanyaan dengan tujuan untuk menarik perhatian dan respon peserta dibalik dunia maya.
Dari pemaparan beliau di awal pembuka, saya merasa kagum dengan kemampuan Artificial Intelligence atau AI. Ternyata, AI dapat membantu banyak hal dalam dunia menulis. Namun, dari materi yang disampaikan Pak Dedi Dwitagama dan dipandu dengan hangat oleh Koko Sim, saya memahami bahwa AI tetap harus digunakan dengan bijak.
Pak Dedi menjelaskan bahwa AI bukan sesuatu yang muncul secara tiba-tiba. AI merupakan hasil perjalanan panjang ilmu pengetahuan, mulai dari gagasan Alan Turing pada tahun 1950 hingga berkembang pesat pada masa Big Data dan Deep Learning. Saat ini, AI semakin dekat dengan kehidupan manusia dan dapat digunakan dalam berbagai pekerjaan, termasuk menulis.
Dalam kegiatan ini, Pak Dedi tidak hanya mengenalkan AI sebagai teknologi, tetapi juga mengingatkan peserta tentang pentingnya ilmu, adab, dan sukses. Tiga hal ini menjadi bekal penting bagi siapa saja yang ingin menjadi penulis.
Menulis bukan hanya menyusun kata, tetapi juga menyampaikan gagasan dengan jujur dan bertanggung jawab.👍
Salah satu bagian penting dari materi adalah rambu-rambu menggunakan AI. AI boleh digunakan untuk membantu mencari ide, membuat kerangka tulisan, meringkas bahan bacaan, memperbaiki tata bahasa, dan membantu ketika penulis mengalami kebuntuan.
Namun, AI tidak boleh digunakan untuk membuat seluruh tulisan secara instan lalu langsung disalin begitu saja. AI juga tidak boleh menggantikan pikiran, pengalaman, analisis, dan suara asli penulis.
Pak Dedi juga memberikan pesan sederhana tetapi sangat bermakna. Penulis harus tetap menentukan arah tulisannya sendiri, menggunakan gaya bahasa sendiri, serta memasukkan pengalaman pribadi agar tulisan terasa hidup. Kalimat “Ori lebih baik daripada KW” menjadi pengingat bahwa tulisan yang asli tetap lebih bernilai daripada tulisan tiruan, meskipun teknologi dapat membuat semuanya terlihat mudah.😍👌
Selain itu, saya belajar bahwa menulis di era AI tetap membutuhkan adab. Seorang penulis harus jujur, bertanggung jawab, dan memiliki niat baik.
AI dapat membantu mempercepat pekerjaan, tetapi manusia tetap menjadi pengendali. Jika digunakan dengan benar, AI dapat membuat kita lebih produktif. Namun, jika digunakan tanpa tanggung jawab, AI dapat membuat kita malas berpikir dan kehilangan jati diri sebagai penulis.
Dari pertemuan malam ini, saya menyadari bahwa bantuan AI bukanlah sebuah kesalahan. AI dapat menjadi alat yang membantu manusia dalam bekerja, termasuk dalam menulis. Yang penting, kita tidak menyerahkan seluruh proses berpikir kepada mesin.
Rasa, pengalaman, kejujuran, dan makna tetap harus lahir dari hati manusia.
Pada akhirnya, kita menyadari bahwa menulis di era AI bukan berarti melawan teknologi, tetapi belajar menggunakannya dengan bijak. AI adalah sahabat, bukan pengganti diri kita.
Mari terus menulis dengan pikiran yang jernih, hati yang jujur, dan keberanian untuk tetap menjadi diri sendiri.
siap....!
yuk ah kita menulis ditemani oleh sahabat baru kita AI😎😎

Komentar
Posting Komentar