Menemukan keberanian Menulis Dongeng dari Hal Sederhana
Menemukan Keberanian Menulis Dongeng dari Hal Sederhana
Resume ke 5
Rabu, 29 April 2026
Nara sumber : Helwiyah, S.Pd.,M.M
Moderator : Dyah Kusumaningrum, M.Pd
Kegiatan KBMN pada Rabu, 29 April 2025 menjadi pengalaman belajar yang menarik dan bermakna bagi saya. Sebagai perempuan dan sekaligus guru serta pemilik pendidikan anak usia dini yang masih terus belajar menulis, saya merasa kegiatan ini bukan hanya menambah pengetahuan, tetapi juga membangunkan kembali mimpi lama untuk menulis cerita yang bermanfaat. Tema tentang membuat dongeng dan cerita anak terlihat sederhana, tetapi ternyata menyimpan banyak pelajaran yang dalam๐.
Dalam kegiatan ini, Ibu Helwiyah sebagai narasumber dan Ibu Dyah Kusumaningrum sebagai moderator menyampaikan materi dengan cara yang ringan dan menyenangkan.
Saya memahami bahwa dongeng dan cerita anak memiliki kekuatan besar untuk menanamkan nilai moral kepada anak-anak. ๐๐
Dongeng membawa anak masuk ke dunia imajinasi, sedangkan cerita anak dekat dengan kehidupan sehari-hari mereka. Keduanya sama-sama dapat menjadi jalan untuk mengajarkan kebaikan, seperti kejujuran, tanggung jawab, persahabatan, dan disiplin.
Saya juga belajar memahami bahwa menulis cerita anak tidak hanya sekadar menulis kata-kata yang indah. Setiap cerita tetap membutuhkan susunan yang jelas, mulai dari pembuka, konflik, klimaks, penyelesaian, hingga pesan moral.
Bahasa yang digunakan juga harus sederhana dan sesuai usia anak pembaca, dialog tidak perlu panjang, dan bunyi-bunyian seperti “gubrak” atau “prang” bisa membuat cerita lebih hidup bagi anak-anak.
Dari sini saya sadar bahwa menulis untuk anak justru membutuhkan kepekaan, karena penulis harus mampu menyampaikan makna besar dengan cara yang sederhana.
Hal yang paling menyentuh bagi saya adalah kesadaran bahwa dongeng bukan hanya cerita pengantar tidur. Dongeng dapat menjadi jembatan nilai, penguat karakter, dan ruang tumbuh bagi imajinasi anak.
Sebagai seorang guru dan pembelajar, saya merasa diingatkan bahwa cerita bisa menjadi cara lembut untuk menanamkan kehidupan kepada anak-anak.
Pada akhirnya, saya menyadari bahwa menulis dongeng tidak harus dimulai dari hal yang besar. Menulis bisa dimulai dari hal sederhana, dari pengalaman kecil, dari lingkungan sekitar, bahkan dari kejadian sehari-hari yang sering kita abaikan. Yang terpenting adalah kemauan untuk memulai dan keberanian untuk menuangkan rasa.
Mari kita mulai menulis...........!๐ช
Tidak perlu menunggu sempurna.
Mulailah dari satu kalimat sederhana, dari cerita kecil di sekitar kita, karena bisa jadi dari sanalah lahir dongeng yang bermakna bagi anak-anak.

Mantap teaumwnya l3ngkap
BalasHapus