Proofreading: Benteng Terakhir Menuju Tulisan yang Layak Terbit
Resume Pertemuan Ke-13 KBMN PGRI Gelombang 34
Proofreading: Benteng Terakhir Menuju Tulisan yang Layak Terbit
Malam ini saya kembali mengikuti kegiatan KBMN PGRI Gelombang 34 pada pertemuan ke-12. Materi kali ini menghadirkan narasumber Bapak Susanto, S.Pd., dengan moderator Ibu Lely Suryani, S.Pd.SD. Suasana kegiatan terasa hangat, akrab, dan penuh semangat. Moderator membuka kegiatan dengan gaya yang santai, bahkan menyelipkan bahasa Jawa Ngapak sebagai bentuk kecintaan terhadap bahasa daerah sebagai kekayaan budaya Indonesia.
Malam ini saya mengikuti kegiatan dalam kondisi kurang sehat. Flu berat membuat tubuh terasa lemah dan mata ingin segera beristirahat. Namun, saya tetap berusaha terjaga dan mengikuti materi sampai akhir. Ada harapan besar dalam diri saya bahwa materi malam ini dapat menjadi semangat lanjutan dari materi sebelumnya, terutama tentang bagaimana bahan ajar yang sudah dikumpulkan dapat dikembangkan menjadi buku ajar yang bermakna dan layak diterbitkan.
Narasumber menjelaskan bahwa proofreading berbeda dengan editing. Editing lebih banyak menyentuh isi, struktur, dan substansi tulisan, sedangkan proofreading merupakan tahap akhir untuk memastikan tulisan benar secara teknis dan nyaman dibaca. Proofreading menjadi bagian penting karena kesalahan kecil dalam tulisan dapat mengurangi kredibilitas penulis di mata pembaca.
Dalam materi ini juga ditekankan pentingnya kemampuan swasunting. Seorang penulis perlu memiliki pengetahuan dasar tentang struktur kalimat, EYD, tanda baca, dan penggunaan bahasa Indonesia yang baik. Meskipun saat ini penulis dapat memanfaatkan teknologi atau kecerdasan buatan untuk membantu memeriksa tulisan, kemampuan dasar berbahasa tetap harus dimiliki. Alat bantu digital hanya berperan sebagai pendukung, bukan pengganti kepekaan penulis terhadap kualitas tulisannya.
Salah satu bagian yang sangat berkesan bagi saya adalah ketika materi dikaitkan dengan bahan ajar. Seluruh bahan ajar yang selama ini terkumpul dapat disusun menjadi buku pelajaran apabila memiliki struktur yang jelas dan dapat dibaca secara mandiri oleh siswa. Namun, bahan ajar tersebut tetap perlu disempurnakan melalui proses proofreading agar bahasanya lebih efektif, kalimatnya lebih sederhana, dan pesan pembelajarannya lebih mudah dipahami.
Materi ini menyadarkan saya bahwa menulis buku ajar bukan hanya tentang mengumpulkan materi, tetapi juga tentang menata, menyunting, dan memeriksa kembali tulisan agar benar-benar layak digunakan oleh peserta didik. Buku ajar yang baik harus memiliki isi yang bermanfaat, bahasa yang jelas, alur yang teratur, serta tampilan tulisan yang rapi dan profesional.
Materi proofreading ini menjadi lanjutan yang sangat tepat dari materi sebelumnya tentang mengumpulkan bahan ajar menjadi buku ajar. Jika sebelumnya saya belajar bahwa guru dapat memulai buku dari materi pembelajaran yang dimiliki, maka malam ini saya belajar bahwa karya tersebut harus dirawat melalui proses pemeriksaan bahasa agar lebih layak dibaca dan diterbitkan.
Sebagai penutup, saya menyadari bahwa menulis bukan hanya tentang menyelesaikan naskah, tetapi juga tentang kesediaan memperbaiki tulisan agar lebih jernih, rapi, dan bermakna. Proofreading adalah langkah kecil yang sering terlupakan, tetapi sangat menentukan kualitas sebuah karya. Semoga setelah materi ini, saya semakin berani dan konsisten menata bahan ajar menjadi buku ajar yang tidak hanya selesai ditulis, tetapi juga layak dibaca, bermanfaat bagi siswa, dan memberi kontribusi nyata bagi dunia pendidikan.

Komentar
Posting Komentar