Writer’s Block: Dari Rasa Takut Menuju Keberanian Menulis
KBMN PGRI Batch 34
Nara Sumber : Muliadi, S.Pd., M.Pd
Moderator : Purbaniasita kusumaning Sedyo,S.Pd
Writer’s Block: Dari Rasa Takut Menuju Keberanian Menulis
Tanpa terasa, malam ini KBMN PGRI sudah masuk pertemuan ke-7. Saat mengikuti kelas ini, saya jadi teringat masa remaja dulu. Rasanya dulu saya begitu mudah menulis. Apa saja bisa jadi bahan tulisan, mulai dari cerita sehari-hari, perasaan yang sedang dirasakan, sampai impian-impian kecil yang saya simpan dalam hati. Kadang hanya ditulis di buku harian, kadang di kertas seadanya, tetapi semuanya terasa mengalir begitu saja.Sekarang, di usia saya yang sudah 45 tahun dan dengan kesibukan sebagai guru, menulis ternyata tidak semudah dulu. Ada banyak hal yang membuat pikiran penuh. Urusan mengajar, keluarga, pekerjaan sekolah, dan berbagai tanggung jawab lain sering membuat niat menulis tertunda. Kadang sudah ingin menulis, tetapi bingung mulai dari mana. Kadang ide sudah ada, tetapi tangan terasa berat untuk mengetik. Mungkin bukan karena tidak bisa, tetapi karena saya terlalu lama berhenti dan terlalu banyak berpikir.
Pada pertemuan malam ini, tema yang dibahas sangat dekat dengan pengalaman banyak penulis pemula, yaitu “Mengatasi Writer’s Block.” Kelas dipandu oleh Bu Purbaniasita, yang akrab dipanggil Bu Sita, sebagai moderator. Narasumbernya adalah Bapak Malindi, S.Pd., M.Pd., atau yang biasa disapa Pak Mul. Beliau adalah Kepala Sekolah SMK Negeri 1 Galang Tolitoli. Selain sebagai kepala sekolah, beliau juga dikenal sebagai pegiat literasi yang telah menghasilkan satu buku solo dan tujuh buku antologi. Beliau juga aktif menulis di Kompasiana.
Mendengar perjalanan beliau saja sudah membuat saya merasa bahwa menulis memang bisa tumbuh dari kebiasaan dan kemauan untuk terus mencoba.
Pak Mul membuka materi dengan pernyataan yang sederhana, tetapi sangat kuat. Menurut beliau, menulis adalah sebuah keterampilan. Artinya, menulis bukan hanya soal bakat, tetapi sesuatu yang bisa dilatih jika dilakukan berulang-ulang secara konsisten. Pernyataan ini membuat saya merasa lebih lega. Selama ini mungkin banyak orang berpikir bahwa hanya orang berbakat yang bisa menulis. Padahal, menulis bisa dipelajari oleh siapa saja, termasuk kita yang masih merasa pemula.
Dalam dunia KBMN, ada mantra Om Jay yang sangat terkenal, yaitu “Menulislah setiap hari dan buktikan apa yang terjadi.” Kalimat ini terdengar sederhana, tetapi sebenarnya menjadi pengingat bahwa menulis perlu dibangun dari kebiasaan harian. Namun, Pak Mul juga mengingatkan bahwa sehebat apa pun seorang penulis, pasti ada masa ketika ia merasa buntu. Tiba-tiba ide hilang, bingung harus mulai dari mana, atau hanya menatap layar kosong tanpa tahu harus mengetik apa. Inilah yang disebut dengan writer’s block.
Writer’s block adalah kondisi ketika seseorang ingin menulis, tetapi merasa tidak bisa memulai. Ide terasa menghilang. Kalimat yang baru ditulis langsung dihapus lagi. Pikiran terasa penuh, tetapi tidak ada satu pun yang bisa keluar menjadi tulisan. Pak Mul menjelaskan bahwa keadaan seperti ini sangat wajar. Jadi, jika kita pernah mengalaminya, bukan berarti kita tidak berbakat menjadi penulis. Banyak penulis besar juga pernah mengalaminya, termasuk Dee Lestari, Andrea Hirata, dan Tere Liye. Mereka pun pernah merasakan kebuntuan dalam menulis.
Ada beberapa penyebab writer’s block. Salah satunya adalah rasa takut tulisan kita jelek. Kita terlalu ingin sempurna sejak awal, sehingga belum apa-apa sudah menghakimi tulisan sendiri. Penyebab lainnya adalah terlalu banyak berpikir, terlalu banyak teori, tetapi tidak segera menulis. Ada juga yang menunggu mood datang, padahal menulis bukan hanya soal perasaan, melainkan juga soal kedisiplinan. Selain itu, rasa lelah, terlalu sering membuka media sosial, dan kebiasaan membandingkan diri dengan penulis lain juga bisa membuat kita semakin sulit menulis.
Bagian ini terasa sangat dekat dengan kehidupan saya. Kadang saya ingin menulis, tetapi terlalu sibuk memikirkan apakah tulisan saya bagus atau tidak. Kadang saya juga membandingkan tulisan saya dengan orang lain. Akhirnya, bukan semangat yang muncul, tetapi rasa minder. Dari penjelasan Pak Mul, saya belajar bahwa kadang masalahnya bukan karena kita tidak bisa menulis, tetapi karena kita terlalu keras kepada diri sendiri.
Pak Mul kemudian memberikan beberapa cara sederhana untuk melawan writer’s block. Pertama, tulis saja dulu, jelek tidak apa-apa. Jangan terlalu cepat menilai tulisan sendiri. Biarkan draf keluar terlebih dahulu. Kedua, jangan mengedit saat baru mulai menulis. Selesaikan dulu tulisan sampai akhir, baru diperbaiki. Ketiga, gunakan teknik menulis selama 10 menit. Pasang timer, lalu tulis apa saja yang ada di kepala tanpa terlalu memikirkan benar atau salah. Keempat, jauhkan HP sebentar agar fokus tidak terpecah oleh notifikasi atau keinginan membuka media sosial. Kelima, mulailah dari cerita yang paling gampang, misalnya dari apa yang kita lihat, rasakan, atau alami. Keenam, menulislah sedikit tetapi rutin. Lebih baik menulis tiga kalimat setiap hari daripada menunggu waktu lama untuk menulis banyak halaman.
Bagi saya, materi malam ini terasa seperti obat untuk luka lama yang ternyata masih saya simpan sampai sekarang. Dulu, saat masih remaja, saya pernah punya keinginan untuk mengikuti lomba menulis cerpen di sebuah majalah remaja. Waktu itu rasanya ingin sekali mencoba. Saya sudah membayangkan betapa senangnya kalau tulisan saya bisa dibaca orang lain. Namun, di sisi lain, saya juga ragu. Saya takut tulisan saya tidak sesuai dengan tema lomba. Saya takut cerita yang saya tulis tidak menarik dan dianggap tidak layak.
Saat itu, guru saya memberi semangat. Beliau mengatakan bahwa saya harus berani mencoba, karena menulis tidak akan berkembang kalau hanya disimpan dalam pikiran. Ucapan itu sempat membuat saya percaya diri. Tetapi di waktu yang lain, semangat saya kembali goyah. Seorang kakak kelas pernah menghina tulisan saya dan mengatakan tulisan saya tidak bagus. Kalimat itu mungkin bagi orang lain terdengar biasa, tetapi bagi saya sangat membekas. Sampai hari ini, saya masih mengingat peristiwa itu dengan jelas.
Sejak saat itu, saya jadi sering ragu setiap kali ingin menulis. Saya takut tulisan saya dibandingkan dengan tulisan orang lain. Saya takut dinilai buruk. Saya takut ada orang yang kembali mengatakan bahwa tulisan saya tidak bagus. Lama-kelamaan, saya memilih berhenti. Saya mandek cukup lama dan tidak pernah lagi benar-benar berani mengikuti kegiatan menulis.
Namun, malam ini pesan Pak Mul terasa sangat menyentuh hati saya. Beliau mengatakan, jangan menunggu sembuh, tetapi dipaksa jalan. Kalimat itu sederhana, tetapi seperti membangunkan semangat yang sudah lama tertidur. Saya sadar, mungkin luka itu belum sepenuhnya hilang. Mungkin rasa takut itu masih ada. Tetapi saya tidak harus menunggu semuanya benar-benar sembuh untuk mulai menulis lagi. Saya hanya perlu berjalan pelan-pelan, menulis sedikit demi sedikit, dan memberi kesempatan kepada diri sendiri untuk kembali mencoba.
Dari materi malam ini, semangat saya muncul kembali. Pak Mul juga memberi contoh bahwa Stephen King menulis setiap hari, bahkan ketika tidak mood. Baginya, menulis adalah pekerjaan, bukan sekadar menunggu perasaan datang. Salah satu teknik yang bisa digunakan adalah free writing atau menulis bebas. Selama 10 menit, kita menulis apa saja yang ada di kepala tanpa peduli tanda baca, salah ketik, atau kalimat yang belum rapi. Tujuannya bukan menghasilkan tulisan sempurna, tetapi melatih keberanian untuk mengeluarkan isi pikiran.
Ada juga pesan penting dari Pak Mul tentang menghadapi kritik. Jika tulisan kita dikritik, kita perlu memisahkan antara diri kita dan tulisan kita. Tulisan adalah karya yang bisa diperbaiki, sedangkan diri kita adalah pribadi yang terus bertumbuh. Kritik terhadap tulisan bukan berarti kita gagal sebagai manusia. Kita juga boleh merasa sedih atau kecewa, tetapi jangan terlalu lama tinggal dalam rasa sakit itu. Beri waktu untuk menerima perasaan tersebut, lalu bangkit dan mulai memperbaiki diri.
Pak Mul mengingatkan bahwa kritik bisa menjadi bahan bakar gratis. Jika ada orang yang tidak suka dengan tulisan kita, jadikan itu dorongan untuk belajar lebih baik. Penulis hebat tidak hanya lahir dari pujian, tetapi juga dari kritik yang mampu ia olah menjadi kekuatan. Pesan penutup beliau sangat menyentuh, bahwa seorang penulis tidak diukur dari banyaknya orang yang memuji, tetapi dari seberapa sering ia bangkit setelah tulisannya dihujat. Berhenti menulis adalah kekalahan yang sebenarnya.
Sebagai penutup, saya merasa pertemuan malam ini sangat berarti. Saya belajar bahwa writer’s block bukan akhir dari perjalanan menulis. Ia hanya bagian dari proses yang harus dihadapi dengan sabar dan berani. Ke depan, saya ingin mulai mempraktikkan tips dari Pak Mul. Saya akan mencoba menulis sedikit demi sedikit, tidak terlalu cepat menghakimi tulisan sendiri, dan tidak lagi menunggu mood untuk mulai menulis.
Mari, pembaca yang budiman, kita juga melakukan hal yang sama. Jangan takut tulisan kita belum sempurna. Jangan berhenti hanya karena pernah dikritik. Mulailah dari satu kalimat, satu paragraf, lalu teruskan perlahan. Seperti pesan Pak Mul, teruslah berjalan meski belum sepenuhnya sembuh. Karena siapa tahu, dari tulisan sederhana hari ini, akan lahir karya yang kelak menguatkan diri sendiri dan memberi manfaat bagi orang lain.

Komentar
Posting Komentar