Dari Ragu Menjadi Berani: Belajar Menerbitkan Buku Indie


 

Hari/Tanggal: Jum’at, 29 Mei 2026
Narasumber: Mukminin, S.Pd., M.Pd.
Moderator: Yandri Novita Sari, S.Pd.
Tema: Terbitkan Buku Semakin Mudah Bersama Penerbit Indie

Malam itu pertemuan KBMN PGRI Gelombang 34 terasa berbeda dari biasanya. Kegiatan diikuti dalam perjalanan pulang setelah selesai agenda di luar kota. Badan sudah mulai lelah, kepala rasanya ingin segera bersandar, tetapi hati masih ingin tetap hadir di kelas menulis malam itu. Tema yang dibahas terlalu menarik untuk dilewatkan, yaitu “Terbitkan Buku Semakin Mudah Bersama Penerbit Indie.” 😊

Resume ini sebenarnya sempat tertunda. Selama liburan, kondisi tubuh benar-benar drop. Batuk berat, badan terasa lemas, suara pun hampir menghilang. Keinginan untuk segera menuntaskan tugas tentu ada, tetapi tubuh belum mampu diajak bekerja sama. Beberapa kali ingin membuka catatan, tetapi akhirnya tertunda lagi karena kondisi belum memungkinkan 😷.

Akhirnya, pada sore hari Minggu, dengan keadaan yang masih belum pulih sepenuhnya, catatan itu kembali dibuka. Pelan-pelan ingatan tentang materi malam itu disusun kembali. Tulisan ini mungkin belum sempurna. Bahasanya juga mungkin masih sederhana. Namun, resume ini ditulis dengan semangat yang masih dijaga, meskipun batuk masih berat dan suara belum kembali seperti semula.

Pertemuan malam itu menghadirkan narasumber yang luar biasa, yaitu Bapak Mukminin, S.Pd., M.Pd., atau yang akrab disapa Cak Inin. Beliau adalah seorang guru, penulis, editor, pegiat literasi, sekaligus pemilik Penerbit Kamila Press Lamongan. Kegiatan dipandu oleh Ibu Yandri Novita Sari, S.Pd. sebagai moderator yang membersamai peserta dengan ramah dan penuh semangat.

Sejak membaca tema kegiatan, rasanya materi ini sangat dekat dengan kehidupan penulis pemula. Selama ini, ada kesenangan membaca dan sesekali menulis. Namun, tulisan-tulisan itu lebih sering berhenti di laptop, buku catatan, atau folder yang jarang dibuka kembali. Ada banyak tulisan yang sebenarnya ingin dikembangkan, tetapi rasa ragu sering datang lebih dulu.

Pertanyaan seperti, “Apakah tulisan ini layak?” “Apakah ada orang yang mau membaca?” atau “Mampukah suatu hari menerbitkan buku?” sering muncul diam-diam. Pertanyaan-pertanyaan itu kadang membuat langkah terasa berat. Akhirnya, tulisan lebih sering disimpan daripada dibagikan. πŸ˜”

Namun, malam itu ada semangat baru yang tumbuh. Kisah perjalanan Cak Inin benar-benar menyentuh. Beliau tidak tiba-tiba menjadi penulis hebat. Ada proses panjang, ada perjuangan, ada keberanian untuk memulai, dan tentu ada konsistensi yang terus dijaga. Beliau juga merupakan alumni KBMN yang pernah belajar dari awal, lalu terus bergerak hingga menjadi penulis produktif, narasumber literasi, bahkan mendirikan penerbit sendiri.

Dari kisah tersebut, muncul kesadaran bahwa usia bukan penghalang untuk menulis. Kesibukan bukan alasan untuk berhenti berkarya. Bahkan rasa tidak percaya diri pun bisa dikalahkan sedikit demi sedikit, asal ada kemauan untuk memulai. Kalimat “Tiada kata terlambat untuk menulis” terasa begitu kuat. Seperti ada suara kecil yang berkata, “Ayo, jangan hanya menyimpan tulisan. Mulailah bergerak.”

Cak Inin menjelaskan bahwa dalam dunia penerbitan buku ada dua jenis penerbit yang perlu dikenal, yaitu penerbit mayor dan penerbit indie. Selama ini, yang terlihat hanya buku yang sudah jadi, sudah dicetak, dan sudah dibaca orang. Padahal, di balik sebuah buku ada proses panjang yang tidak sederhana.

Penerbit mayor biasanya mencetak buku dalam jumlah besar. Naskah yang masuk harus melalui seleksi ketat dan prosesnya bisa cukup lama. Kelebihannya, biaya penerbitan ditanggung oleh penerbit. Namun, tantangannya juga besar karena tidak semua naskah bisa diterima. Penerbit mayor tentu mempertimbangkan kualitas tulisan, peluang pasar, dan kemungkinan buku tersebut laku di pasaran.

Sementara itu, penerbit indie terasa lebih dekat dengan penulis pemula. Jalur ini lebih fleksibel dan memberi kesempatan lebih luas bagi siapa pun yang ingin menerbitkan karya. Penerbit indie biasanya mencetak buku sesuai kebutuhan atau pesanan, yang dikenal dengan istilah Print on Demand. Prosesnya juga lebih cepat. Selama naskah layak, karya sendiri, tidak plagiat, tidak melanggar hak cipta, tidak mengandung SARA, pornografi, atau hal-hal yang melanggar aturan, maka naskah memiliki peluang besar untuk diterbitkan.

Bagian ini terasa sangat melegakan. Ternyata menerbitkan buku tidak harus menunggu menjadi penulis terkenal. Tidak harus menunggu tulisan sempurna. Tidak harus menunggu percaya diri penuh. Buku bisa dimulai dari naskah sederhana, pengalaman pribadi, catatan pembelajaran, kisah perjalanan, atau tulisan kecil yang selama ini mungkin hanya tersimpan rapi. 😊

Cak Inin juga menjelaskan beberapa perbedaan antara penerbit mayor dan penerbit indie. Dari segi jumlah cetakan, penerbit mayor mencetak dalam jumlah besar untuk diedarkan ke toko-toko buku, sedangkan penerbit indie mencetak sesuai pesanan. Dari segi waktu, penerbit mayor membutuhkan proses lebih panjang, sementara penerbit indie bisa lebih cepat. Dari segi royalti, penerbit mayor biasanya memberikan royalti sekitar 10 persen, sedangkan penerbit indie bisa sekitar 15 sampai 20 persen, tergantung ketentuan masing-masing penerbit.

Tentu saja, penerbit indie biasanya berbayar. Namun, bagi penulis pemula, jalur ini bisa menjadi pintu awal untuk belajar menerbitkan karya. Dari sini muncul pemahaman baru bahwa mungkin selama ini hambatannya bukan karena tidak ada jalan, tetapi karena terlalu lama ragu untuk melangkah.

Materi berikutnya membahas tahapan menulis hingga sebuah karya bisa menjadi buku. Ada lima tahapan penting, yaitu prewriting, drafting, revisi, editing atau swasunting, dan publikasi.

Tahap pertama adalah prewriting, yaitu menentukan ide, tema, tujuan, dan konsep tulisan. Pada tahap ini, penulis perlu bertanya, “Tulisan ini ingin membahas apa?” dan “Untuk siapa tulisan ini dibuat?” Tahap kedua adalah drafting, yaitu mulai menulis naskah awal. Pada bagian ini, tidak perlu terlalu takut salah. Yang penting, tulis dulu. Biarkan ide keluar apa adanya.

Tahap ketiga adalah revisi, yaitu memperbaiki isi tulisan. Setelah naskah selesai, tulisan perlu dibaca ulang. Bagian yang kurang jelas diperbaiki, yang terlalu panjang diringkas, dan yang masih kosong dilengkapi. Tahap keempat adalah editing atau swasunting, yaitu merapikan tulisan dari segi bahasa, tanda baca, susunan kalimat, dan alur. Tahap terakhir adalah publikasi, yaitu menerbitkan karya agar dapat dibaca dan memberi manfaat bagi orang lain.

Dari tahapan itu, ada rasa lega yang muncul. Ternyata buku tidak lahir langsung sempurna. Tidak ada tulisan yang langsung indah dalam sekali duduk. Semua butuh proses. Ada tulisan yang harus dibaca ulang berkali-kali. Ada kalimat yang perlu diperbaiki. Ada bagian yang mungkin harus dihapus. Jadi, tulisan pertama yang masih berantakan bukanlah kegagalan. Itu justru tanda bahwa proses menulis sedang dimulai. πŸ˜…

Sesi tanya jawab malam itu juga sangat menarik. Banyak peserta bertanya tentang biaya penerbitan, royalti, ISBN, syarat naskah, hingga cara menjaga semangat menulis. Di tengah rasa lelah dan batuk yang masih mengganggu, materi malam itu tetap berhasil membuat perhatian bertahan sampai akhir.

Ada satu momen kecil yang sangat membahagiakan. Ketika narasumber memberikan pertanyaan berhadiah buku, jawaban pun ikut dikirimkan. Awalnya tidak terlalu berharap karena sudah ada peserta lain yang menjawab lebih dulu. Niatnya hanya ikut mencoba dan meramaikan suasana. Namun, ternyata Allah memberi kejutan. Nama ini termasuk salah satu yang berhak mendapatkan buku. Masyaallah, rasanya senang, terharu, dan hampir tidak percaya πŸ₯ΉπŸ“š.

Hadiah itu mungkin sederhana bagi orang lain, tetapi bagi penulis pemula yang sedang lelah dan kurang sehat, hadiah tersebut terasa seperti penyemangat kecil. Seolah-olah ada bisikan lembut, “Teruskan. Jangan berhenti dulu.”

Dari materi malam itu, semakin terasa bahwa hambatan terbesar dalam menulis sering kali bukan karena tidak punya ide. Ide sebenarnya banyak. Pengalaman juga banyak. Cerita hidup pun tidak kurang. Yang sering menjadi penghalang justru rasa takut. Takut tulisan jelek. Takut dikritik. Takut tidak dibaca. Takut dibandingkan dengan penulis lain. Padahal, semua penulis hebat pasti pernah menjadi penulis pemula.

Malam itu memberi pelajaran bahwa cara berpikir juga perlu diubah. Daripada mengatakan, “Aku belum mampu menulis buku,” lebih baik mulai berkata, “Aku sedang belajar menjadi penulis.” Kalimat ini terasa lebih ringan. Lebih ramah untuk diri sendiri. Ada ruang untuk mencoba, salah, memperbaiki, lalu mencoba lagi.

Menulis ternyata bukan hanya soal menerbitkan buku. Menulis adalah cara meninggalkan jejak. Bagi seorang guru, tulisan bisa menjadi warisan pengalaman, ilmu, dan inspirasi. Cerita tentang murid, pengalaman mengajar, perjalanan mengikuti pelatihan, kegagalan, keberhasilan, bahkan rasa lelah sekalipun bisa menjadi bahan tulisan yang bermakna.

Banyak hal sederhana di sekitar kita sebenarnya layak ditulis. Cerita tentang murid yang diam-diam berjuang. Guru yang tetap tersenyum meskipun lelah. Sekolah yang terus bergerak meski terbatas. Perjalanan panjang yang penuh hambatan. Semua itu bisa menjadi tulisan jika diberi ruang.

Perjalanan mengikuti KBMN ini memang tidak selalu mudah. Ada hari ketika semangat naik turun. Ada tugas yang tertunda. Ada badan yang tiba-tiba drop. Ada batuk berat yang membuat suara menghilang. Ada perjalanan melelahkan yang membuat interaksi di grup WhatsApp sangat terbatas πŸ˜”. Namun, di balik semua itu, semangat untuk tetap belajar masih terus dijaga.

Di ujung kegiatan yang terasa benar-benar menguras tenaga ini, rasa terima kasih yang besar ingin disampaikan kepada Cak Inin sebagai narasumber dan Ibu Yandri Novita Sari sebagai moderator. Terima kasih juga kepada seluruh tim KBMN yang terus menjaga api literasi para peserta. Meskipun ada saja halangan yang membuat keaktifan di grup WA tidak maksimal, kegiatan ini tetap memberi banyak pelajaran berharga.

Resume ini ditulis dalam kondisi yang masih belum benar-benar pulih. Batuk masih berat, suara belum kembali, dan tubuh masih terasa lelah. Namun, ada rasa syukur karena akhirnya catatan ini bisa diselesaikan. Tidak sempurna memang, tetapi setidaknya satu langkah kecil sudah dilakukan.

Semoga setelah ini, tulisan-tulisan yang selama ini hanya tersimpan mulai berani ditata kembali. Perlahan diperbaiki, dikumpulkan, dan suatu hari nanti bisa menjadi sebuah buku. Mungkin belum sekarang. Mungkin belum dalam waktu dekat. Namun, keinginan itu mulai tumbuh kembali.

Benar kata Cak Inin, tidak ada kata terlambat untuk menulis. Yang terlambat adalah ketika kita terus menunda, padahal kata pertama sudah lama menunggu untuk dituliskan ✍️✨.

Komentar

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kisah Inspirasi

Menjadikan Menulis sebagai Passion

Proofreading: Benteng Terakhir Menuju Tulisan yang Layak Terbit