Om Jay, AI, dan Jejak Panjang Menulis Blog
Resume ke-: 19
Hari/Tanggal: Rabu, 03 Juni 2026
Narasumber: Dr. Wijaya Kusuma, M.Pd.
Moderator: Dail Ma’ruf, M.Pd.
Tema: Pemanfaatan AI untuk Menulis
Malam itu adalah hari ketiga berada di rumah sakit. Anak masih dirawat karena DBD, dan jujur saja, hati sedang tidak karuan. Bukannya makin lega, hasil trombosit justru kembali menurun. Rasanya seperti ada batu kecil yang terus menekan dada. Mata memang melihat layar ponsel, tetapi pikiran lebih sering lari ke infus, suhu tubuh, hasil lab, wajah anak yang lemas, dan doa-doa yang terus diulang dalam hati.
Di tengah suasana rumah sakit yang tidak pernah benar-benar sunyi, grup KBMN tetap dibuka pelan-pelan. Suara langkah perawat sesekali terdengar. Pintu ruang perawatan kadang terbuka. Ada bunyi alat, ada suara keluarga pasien lain, ada rasa cemas yang sulit disembunyikan. Materi malam itu hanya sempat dibaca sepotong-sepotong. Baru membaca beberapa pesan, perhatian sudah kembali lagi ke anak. Dalam hati sempat terucap, “Ya Allah, malam ini sanggup tidak ya mengikuti materi dan menulis resume?”
Namun, saat membaca nama narasumber malam itu, hati seperti berhenti sebentar. Dr. Wijaya Kusuma, M.Pd. atau Om Jay. Nama itu bukan nama yang asing bagiku. Tiba-tiba ingatan kembali ke tahun 2018, saat pertama kali bertemu beliau di Labschool dalam kegiatan menulis PTK atau Penelitian Tindakan Kelas. Saat itu, aku belum membayangkan bahwa perjalanan menulis akan menjadi jalan panjang yang penuh kejutan seperti sekarang.
Ada juga kenangan lain yang ikut muncul. Pernah suatu waktu, saat membaca di perpustakaan UNJ, kutemukan nama beliau dalam kaitannya dengan aktivitas menulis blog yang dijadikan bagian dari penelitian. Saat itu aku hanya membaca sambil kagum. Dalam hati berkata, “Ternyata menulis blog bisa menjadi sesuatu yang serius, bahkan bisa menjadi bagian dari kerja akademik.”
Materi malam ini bertemakan Pemanfaatan AI untuk Menulis, materi yang menjadi pembicaraan hangat di semua kalangan. Om Jay menyampaikan bahwa Artificial Intelligence atau AI bukan musuh bagi penulis. AI tidak perlu ditakuti berlebihan. Jika digunakan dengan bijak, AI bisa membantu mencari ide, membuat kerangka, merangkum bahan, mengembangkan paragraf, bahkan merapikan tulisan.
Pernyataan itu membuat hati ini sedikit lega. Sebab, dalam proses menulis, sering kali masalah bukan hanya tidak punya ide. Kadang ide ada, tetapi bingung membukanya. Kadang tulisan sudah jadi, tetapi terasa berantakan. Kadang kepala penuh, tetapi kalimat sulit keluar. Dalam keadaan seperti itu, AI bisa dijadikan teman diskusi. Bukan untuk menggantikan penulis, tetapi untuk membantu menata pikiran.
Bagiku, AI itu seperti teman duduk di samping meja. Ia bisa memberi usulan, “Coba mulai dari bagian ini.” Bisa juga membantu merapikan kalimat yang masih acak-acakan. Namun, tetap saja yang menentukan arah tulisan adalah manusia. Mana yang dipakai, mana yang dibuang, mana yang terasa sesuai dengan hati, semua tetap perlu dipilih sendiri.
Malam itu, di rumah sakit, pemahaman tentang AI terasa lebih nyata. Ketika tidak bisa duduk tenang di depan laptop, ponsel menjadi alat utama. Ketika pikiran terasa pecah karena memikirkan kondisi anak, catatan kecil di HP sangat membantu. Ketika badan sudah lelah, teknologi bisa membantu menjaga agar ide tidak hilang begitu saja. Tetapi pengalaman cemas, lelah, dan doa sebagai orang tua tetap tidak bisa dibuat oleh mesin.
AI bisa menyusun kata, tetapi tidak merasakan gelisahnya menunggu hasil lab. AI bisa membuat kerangka tulisan, tetapi tidak memahami bagaimana rasanya melihat trombosit anak menurun. AI bisa memberi pilihan kalimat, tetapi tidak tahu bagaimana hati seorang ibu atau orang tua mencoba tetap kuat di ruang rumah sakit. Di situlah batasnya. Teknologi boleh membantu, tetapi rasa tetap milik manusia.
Maka, pesan Om Jay terasa penting sekali. AI jangan sampai membuat kita malas berpikir. Jangan sampai kemudahan teknologi membuat tulisan kehilangan nyawa. Jangan sampai karena dibantu AI, kita berhenti membaca, berhenti merenung, dan berhenti memberi sentuhan pribadi. AI seharusnya membuat proses menulis lebih ringan, bukan membuat pikiran menjadi tumpul.
Dengan kata lain, AI bisa membantu mempercepat langkah, tetapi arah perjalanan tetap harus ditentukan oleh penulis. Kalau tulisan diibaratkan rumah, AI mungkin bisa membantu menyusun bata. Namun, suasana rumah, warna dinding, aroma, kenangan, dan kehangatannya tetap harus diberikan oleh pemilik cerita. Tanpa rasa manusia, tulisan hanya akan tampak rapi, tetapi terasa dingin.
Materi malam itu juga membuat ingatan kembali kepada perjalanan Om Jay sebagai guru penulis. Beliau dikenal rajin menulis, terutama melalui blog. Dari blog, banyak pengalaman dituliskan. Banyak gagasan dibagikan. Banyak jejak literasi ditinggalkan. Sesuatu yang awalnya mungkin terlihat sederhana, ternyata bisa menjadi jalan panjang yang sangat berarti.
Aku masih teringat saat membaca nama beliau di perpustakaan UNJ. Saat itu baru kusadari bahwa blog bukan sekadar ruang menulis ringan. Blog bisa menjadi ruang berpikir. Blog bisa menjadi tempat menyimpan data pengalaman. Blog bisa menjadi sumber gagasan. Bahkan blog bisa dijadikan bagian dari penelitian. Bagi seorang guru, hal seperti ini sangat membuka mata.
Dari Om Jay, terlihat bahwa tulisan yang dirawat terus-menerus bisa membawa seseorang berjalan jauh. Kebiasaan menulis blog bukan hanya membuat beliau dikenal sebagai pegiat literasi, tetapi juga ikut mengantarkan beliau sampai pada pencapaian akademik yang tinggi. Seorang guru yang rajin menulis, lalu terus belajar, meneliti, berbagi, dan akhirnya meraih gelar Doktor. Bagi diri ini, itu bukan hal biasa. Itu sebuah mahakarya akademik.
Menjadi doktor dari latar seorang guru terasa sangat layak diapresiasi. Sebab, di balik gelar itu pasti ada perjuangan panjang. Ada bacaan yang harus diselesaikan. Ada tulisan yang harus disusun. Ada revisi yang mungkin datang berkali-kali. Ada penelitian yang harus dijalankan. Ada rasa lelah yang harus dilawan. Ada disiplin yang harus dijaga. Dan jika salah satu jalannya berawal dari kebiasaan menulis blog, maka semakin jelas bahwa tulisan sederhana bisa menjadi jembatan menuju pencapaian besar.
Hal ini membuatku kembali berpikir tentang pentingnya konsistensi. Kadang kita meremehkan tulisan kecil. Satu artikel blog dianggap biasa. Satu catatan harian dianggap tidak penting. Satu refleksi pembelajaran dibiarkan begitu saja. Padahal, jika dilakukan terus-menerus, tulisan kecil bisa menjadi kumpulan gagasan besar. Apa yang hari ini terlihat sederhana, bisa saja menjadi bahan penting di masa depan.
Om Jay juga tidak hanya memberi materi. Beliau dikenal tekun memberi perhatian pada peserta. Komentar pada karya, jawaban atas pertanyaan, dan motivasi yang terus diberikan menjadi energi tersendiri. Bagi peserta yang sedang belajar menulis, perhatian kecil seperti itu bisa sangat berarti. Kadang satu komentar pendek saja sudah cukup membuat semangat kembali naik. “Oh, tulisan saya dibaca.” “Oh, saya diperhatikan.” Dari rasa dihargai, keberanian tumbuh pelan-pelan.
Di KBMN, suasana seperti itu terasa penting. Banyak peserta datang dengan rasa ragu. Ada yang belum percaya diri. Ada yang merasa tulisannya belum baik. Ada yang lebih sering diam dan membaca. Tetapi ketika diberi ruang, diberi semangat, dan diberi contoh nyata, pelan-pelan peserta mulai berani menulis.
Malam itu, walaupun materi hanya bisa dibaca sekilas, isi pesannya tetap menempel. Bahwa menulis bisa dibantu teknologi, tetapi tidak boleh kehilangan hati. Bahwa AI bisa dipakai, tetapi jangan sampai membuat kita berhenti berpikir. Bahwa blog mungkin terlihat sederhana, tetapi jika dirawat dengan konsisten, ia bisa menjadi jalan panjang menuju karya dan prestasi.
Dalam kondisi menjaga anak sakit, pelajaran itu terasa dekat. Tidak semua tulisan lahir dari suasana nyaman. Ada tulisan yang lahir dari ruang tunggu. Ada yang lahir dari rumah sakit. Ada yang lahir dari hati yang sedang khawatir. Ada juga tulisan yang lahir karena ingin tetap bertahan di tengah keadaan yang tidak mudah.
Malam itu, teknologi membantu menjaga agar proses menulis tetap berjalan. Ponsel digunakan untuk membaca. Catatan dibuat sedikit-sedikit. Ingatan tentang pertemuan lama dengan narasumber muncul sebagai bahan refleksi. AI dipahami sebagai alat bantu. Blog dikenang sebagai jejak panjang. Semua itu menyatu menjadi pelajaran yang tidak hanya tentang teknologi, tetapi juga tentang ketekunan seorang guru penulis.
Pertemuan ke-19 ini terasa berbeda. Dari pertemuan ini, ada satu hal yang sangat kuat terasa: AI hanyalah alat, sedangkan manusia tetap pemilik rasa. Blog hanyalah media, tetapi konsistensi penulislah yang membuatnya bernilai. Teknologi boleh berubah, tetapi ketekunan tetap menjadi kunci. Hari ini AI membantu mempercepat proses. Dulu blog menjadi rumah gagasan. Keduanya bisa menjadi jalan, jika digunakan dengan niat yang baik.
Terima kasih kepada Om Jay dan Pak Dail atas ilmu malam itu. Di tengah rasa cemas sebagai orang tua, materi ini memberi pengingat bahwa menulis tetap bisa dilakukan dari kondisi apa pun. Tidak harus sempurna. Tidak harus tenang. Tidak harus panjang. Yang penting masih ada niat untuk belajar dan berbagi.
Semoga setelah ini, AI bisa digunakan dengan lebih bijak. Bukan untuk menggantikan pikiran, tetapi untuk membantu merapikan tulisan. Bukan untuk menghilangkan rasa, tetapi untuk membuat gagasan lebih tertata. Dan semoga semangat menulis blog seperti yang dicontohkan Om Jay menjadi pengingat bahwa tulisan sederhana yang dirawat terus-menerus bisa mengantar seseorang menuju pencapaian yang tidak pernah dibayangkan sebelumnya.
Salam literasi.
AI boleh membantu menyusun kata, tetapi hati manusialah yang memberi nyawa pada tulisan.

Komentar
Posting Komentar